Home > Index > Embun Pagi

Embun Pagi

12 September, 2008 Leave a comment Go to comments

Adalah Raja Zhao yang memerintah sebuah kerajaan di abad ketiga,
mengirim putranya pangeran Chao Chan yang telah beranjak dewasa ke
sebuah kuil dimana seorang guru besar Pan Ku berada. Chao Chan akan
dididik menjadi seorang pemimpin agar kelak siap menggantikan ayahnya
sebagai raja.

Sehari setelah tiba di kuil, Chao Chan merasa aneh karena Pan Ku
justru mengajak Chao Chan masuk kedalam hutan lalu meninggalkannya
seorang diri di sebuah rumah yang telah disediakan baginya ditengah
hutan itu. “Tinggallah disini dan belajarlah pada alam, satu bulan
lagi aku akan datang menjemputmu” demikian kata Pan Ku.

Satu bulan kemudian Pan Ku datang menjenguk sang pangeran di dalam
hutan dan bertanya: “Katakanlah, selama sebulan di hutan ini suara apa
saja yang sudah kau dengar?”
“Guru,” jawab pangeran, “Saya telah mendengar suara kokok ayam hutan,
jangkrik mengerik, lebah mendengung, burung berkicau, serigala
melolong….” dan masih banyak suara-suara lainnya yang disebutkan oleh
Chao Chan.

Usai pangeran Chao Chan menjelaskan pengalamannya, guru Pan Ku
memerintahkannya untuk tinggal selama tiga hari lagi untuk
memperhatikan suara apa lagi yang bisa didengar selain yang telah
disebutkannya. Untuk kesekiankalinya Chao Chan tidak habis mengerti
dengan perintah sang guru, bukankah ia telah menyebutkan banyak suara
yang didengarkannya?
Chao Chan termenung setiap hari namun tetap berpikir keras ingin
menemukan suara yang dimaksud oleh Pan Ku, tetapi tetap saja tidak
menemukan suara lain dari yang selama ini sudah didengarnya.

Pada hari ketiga menjelang matahari terbit, Chao Chan bangun dari
tidurnya kemudian duduk bersila di rerumputan dan mulailah
bermeditasi. Dalam kesunyian itulah sayup-sayup Chao Chan mendengar
suara yang benar-benar berbeda dengan sebelumnya.
Semakin lama suara itu semakin jelas, dan saat itulah Chao Chan
mengalami pencerahan. “Pasti inilah suara-suara yang dimaksud guru.”
teriaknya dalam hati.
Akhirnya tanpa menunggu Pan Ku datang mengunjunginya, sang pangeran
bergegas kembali ke kuil untuk melaporkan temuannya.

“Guru”, ujarnya “Ketika saya membuka telinga dan hati saya
lebar-lebar, saya dapat mendengar hal-hal yang tak terdengar seperti
suara bunga merekah, suara matahari yang memanaskan bumi dan suara
rumput minum embun pagi.”
Pan Ku tersenyum lega seraya manggut-manggut mengiyakan, lalu katanya:
“Mampu mendengarkan suara yang tak terdengar adalah pelajaran wajib
yang paling penting bagi siapapun yang ingin menjadi pemimpin yang baik.”

“Karena, baru setelah seseorang mampu mendengar suara hati
pengikutnya, mendengar perasaan yang tidak ter-ekspresikan, kesakitan
yang tak terungkapkan, keluhan yang tidak diucapkan, maka barulah
seorang pemimpin akan paham betul apa yang salah dan niscaya akan
mampu memenuhi kebutuhan yang sesungguhnya dari para pengikutnya”.

http://www.andriewongso.com/awartikel-1916-Artikel_Tetap-Embun_Pagi
http://www.haryoardito.com/

Categories: Index
  1. No comments yet.
  1. No trackbacks yet.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: